Pentingnya “ Toilet Training ” Bagi Seorang Anak Pada Usia Dini

Pentingnya “ toilet training ” untuk anak harus Anda pahami benar-benar. Sebab, masa peralihan dari penggunaan popok menjadi penggunaan toilet ini akan menjadi tonggak psikologi seorang anak yang akan terbawa hingga dewasa. Sayangnya, tidak semua orang tua memahami dan melakukan bimbingan yang intens tentang hal ini. Mereka tidak mengetahui waktu yang tepat untuk mengenalkan toilet untuk anak-anak mereka. Lalu, kapan training harus dilakukan dan apa saja dampaknya bagi psikologi anak?
Pentingnya Toilet Training Bagi Anak

Pada dasarnya, toilet training harus segera diajarkan pada saat anak sudah bisa duduk. Atau, pada saat anak sudah menunjukkan ciri-ciri khusus, seperti tidak mau menggunakan popok, memakai dan melepas pakaian sendiri, bertanya tentang orang tua yang menggunakan toilet, dan minta diganti saat popok basah, sudah bisa mengenal bagian kamar mandi seperti kloset, pintu kamar mandi, bak mandi dan masih banyak lagi. Jika ciri-ciri tersebut sudah terjadi pada anak Anda, segera lakukan toilet training. Berikut ini dampak training ini bagi psikologi anak.

  1. Mengajarkan Rasa Tanggung Jawab

    Toilet training mengajarkan anak untuk mempunyai rasa tanggung jawab. Anak yang tidak dilatih untuk pergi ke toilet pada waktu yang tepat, akan membuatnya terbiasa mengandalkan orang lain. Kebiasaan ini akan terbawa hingga dewasa. Kelak, jika sudah besar, ia lebih sering menyuruh orang lain atau bersandar pada bantuan orang lain untuk menyelesaikan urusannya sendiri.

  1. Mengajarkan Kebersihan Diri

    Toilet training mengajarkan anak untuk terus menjaga kebersihan diri. Tanpa adanya training ini, anak akan terbiasa hidup jorok. Meskipun popoknya basah penuh air seni atau yang lain, ia tetap akan merasa nyaman dan tidak terganggu. Ia hanya menunggu orang lain membantu membersihkannya. Hal ini akan berdampak hingga kelak dewasa. Ia akan malas untuk membersihkan diri. Lingkungan sekitar atau dirinya sendiri dalam kondisi kotor, ia tidak akan tergugah untuk membersihkannya. Pastinya ini akan berakibat pada kesehatannya.

  1. Mengajarkan Sikap Antisipatif

    Saat anak sudah terbiasa ke kamar mandi saat ingin buang air kecil maupun besar, artinya ia sudah mampu melakukan antisipatif agar tidak mengompol. Sikap seperti ini juga akan berdampak kelak dewasa saat ia mengalami masalah yang lebih kompleks. Sebelum segala sesuatu terjadi, secara alami ia kan melakukan tindakan antisipatif.

  1. Meningkatkan Rasa Percaya Diri

    Anak yang masih menggunakan popok meskipun sudah besar tentu akan menjadi bahan ejekan teman-temannya. Begitu juga anak yang tidak diajarkan toilet training sehingga sering mengompol. Ia akan menjadi bahan ledekan orang lain. Hal ini jelas akan membuat rasa percaya dirinya menjadi menurun.

Itulah beberapa dampak psikologi jika Anda tidak segera menerapkan toilet training pada waktu yang tepat. Sebagai orang tua yang ingin melihat perkembangan psikologi anaknya berkembang dengan baik, jangan pernah abaikan pentingnya “toilet training” untuk anak tersebut, apabila anda masih bingung bagaimana cara nya menerapkan toilet training coba simak tips berikut ini (Klik Disini).

Leave a Reply